
Pernahkah Anda sedang asyik scroll media sosial, lalu tiba-tiba mood berantakan setelah melihat teman mengunggah foto liburan mewahnya, rumah barunya, atau pencapaian kariernya? Tiba-tiba ada perasaan sesak di dada, merasa diri ini tertinggal, atau tanpa sadar kita bergumam nyinyir, “Ah, paling dia cuma beruntung,” atau “Ah, itu kan pakai uang orang tuanya.” Hati-hati, perasaan insecure dan tidak suka melihat orang lain bahagia semacam itu bisa jadi adalah bibit dari penyakit hati yang sangat merusak: Iri hati dan dengki. Dalam Islam, sifat ini dikenal dengan istilah Hasad.
Mari kita duduk sejenak, mengambil napas panjang, dan menata kembali hati kita. Mengapa Islam sangat mewanti-wanti kita dari penyakit ini?
Hasad: Memprotes Ketentuan Allah
Pada dasarnya, iri hati atau hasad adalah perasaan tidak senang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, dan ada harapan agar nikmat tersebut hilang dari orang itu. Secara tidak sadar, ketika kita merasa dengki, kita sebenarnya sedang “memprotes” pembagian rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Padahal, Allah telah memberikan peringatan yang sangat lembut namun tegas dalam Al-Qur’an agar kita fokus pada karunia kita masing-masing:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa rezeki, jodoh, karier, hingga keturunan sudah memiliki takarannya masing-masing. Porsinya tidak akan pernah tertukar. Iri hati tidak akan membuat kita mendapatkan apa yang orang lain miliki, ia justru hanya akan mencuri ketenangan batin kita sendiri.
Api yang Membakar Amal Kebaikan
Bahaya terbesar dari iri hati bukanlah pada kerugian duniawi, melainkan kebangkrutan di akhirat. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat mengerikan tentang sifat dengki ini:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah oleh kalian sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903)
Coba bayangkan, kita sudah susah payah bangun malam untuk shalat tahajud, menahan lapar saat puasa, dan mengeluarkan harta untuk sedekah. Namun, semua pahala itu hangus tak bersisa hanya karena kita memelihara rasa benci dan dengki melihat tetangga membeli mobil baru. Sangat rugi, bukan?
Nasihat Ulama: Dengki adalah Menyiksa Diri Sendiri
Imam Al-Ghazali rahimahullah, seorang ulama besar yang sangat ahli dalam membahas penyakit hati, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin memberikan teguran yang sangat menohok. Beliau menjelaskan bahwa orang yang dengki sejatinya sedang menyiksa dirinya sendiri.
Orang yang didengki tetap bisa tidur nyenyak dan menikmati rezekinya, sementara orang yang mendengki terus-menerus merasa kepanasan, gelisah, dan dadanya sesak memikirkan nikmat orang lain. Hasad adalah racun yang diminum oleh diri sendiri, namun berharap orang lain yang mati karenanya.
Langkah Praktis (Takeaway) Membersihkan Hati dari Dengki
Penyakit hati ini bisa menyerang siapa saja. Jika Anda mulai merasakan gejalanya, segera lakukan pertolongan pertama berikut ini:
- Doakan Kebaikan untuk Orang Tersebut: Ini adalah cara paling ampuh membunuh ego. Saat hati terasa panas melihat pencapaian teman, paksakan lisan Anda untuk berdoa, “Ya Allah, berkahilah rezekinya, dan karuniakanlah hal yang baik pula untukku.” Malaikat akan mengaminkan doa tersebut untuk Anda juga.
- Perbanyak Syukur, Kurangi Membandingkan: Fokuslah pada rumput di halaman sendiri. Tulislah 3 nikmat kecil yang Anda rasakan hari ini (misalnya: masih bisa bernapas lega, keluarga sehat, punya makanan di meja).
- Lakukan Detox Media Sosial: Jika melihat story atau feed orang lain sering membuat Anda insecure dan dengki, jangan ragu untuk menekan tombol mute atau unfollow. Jaga kewarasan dan kedamaian hati Anda terlebih dahulu.
- Yakini Bahwa Rezeki Tidak Akan Tertukar: Ingatlah selalu bahwa apa yang ditakdirkan untuk Anda tidak akan pernah melewatkan Anda, dan apa yang melewatkan Anda memang bukan takdir Anda.
Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita dan menjauhkan kita dari sifat iri dan dengki yang merusak kebahagiaan.