-
Diam-diam Merusak Pahala: Bahaya ‘Ujub’ (Bangga Diri) yang Sering Kita Abaikan

Pernahkah Anda selesai melaksanakan shalat Tahajud, lalu tiba-tiba terbersit di dalam hati, “Alhamdulillah, aku luar biasa bisa bangun malam, tidak seperti teman-temanku yang masih tertidur lelap”? Atau, saat baru saja bersedekah dalam jumlah besar, ada rasa bangga yang mekar di dada sambil merasa diri ini sudah sangat saleh?
Hati-hati, perasaan “bangga diri” atau kagum pada amalan sendiri semacam ini memiliki nama dalam Islam, yaitu Ujub. Secara kasat mata, kita mungkin memang sedang berbuat kebaikan. Namun di dalam hati, ada sebuah virus tak kasat mata yang diam-diam sedang menggerogoti pahala ketaatan kita.
Mari kita pelajari bersama, mengapa sifat yang sering tidak kita sadari ini sangat berbahaya bagi seorang Muslim.
Allah Melarang Kita Merasa Paling Suci
Penyakit ujub sangatlah halus. Kadang ia datang bukan melalui godaan harta atau kedudukan, melainkan menyusup lewat ibadah dan ketaatan kita. Ketika kita terkena ujub, kita lupa bahwa kemampuan kita untuk bisa shalat, puasa, dan bersedekah semata-mata adalah karena pertolongan dan taufik dari Allah, bukan karena kehebatan kita sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kita dengan sangat lembut namun tegas, agar tidak mudah merasa diri ini suci atau lebih baik dari orang lain:
-
Bahaya “Scrolling” Berujung Insecure: Mengenali dan Mengobati Penyakit Iri Hati (Hasad)

Pernahkah Anda sedang asyik scroll media sosial, lalu tiba-tiba mood berantakan setelah melihat teman mengunggah foto liburan mewahnya, rumah barunya, atau pencapaian kariernya? Tiba-tiba ada perasaan sesak di dada, merasa diri ini tertinggal, atau tanpa sadar kita bergumam nyinyir, “Ah, paling dia cuma beruntung,” atau “Ah, itu kan pakai uang orang tuanya.” Hati-hati, perasaan insecure dan tidak suka melihat orang lain bahagia semacam itu bisa jadi adalah bibit dari penyakit hati yang sangat merusak: Iri hati dan dengki. Dalam Islam, sifat ini dikenal dengan istilah Hasad.
Mari kita duduk sejenak, mengambil napas panjang, dan menata kembali hati kita. Mengapa Islam sangat mewanti-wanti kita dari penyakit ini?
Hasad: Memprotes Ketentuan Allah
Pada dasarnya, iri hati atau hasad adalah perasaan tidak senang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, dan ada harapan agar nikmat tersebut hilang dari orang itu. Secara tidak sadar, ketika kita merasa dengki, kita sebenarnya sedang “memprotes” pembagian rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Padahal, Allah telah memberikan peringatan yang sangat lembut namun tegas dalam Al-Qur’an agar kita fokus pada karunia kita masing-masing:
-
Narkoba: Jalan Pintas Menuju Kehancuran Dunia dan Akhirat

Pernahkah Anda melihat seseorang yang dahulunya berprestasi, ceria, dan memiliki masa depan cerah, tiba-tiba berubah drastis menjadi sosok yang kusam, pemarah, kehilangan semangat hidup, bahkan berani melakukan tindak kriminal? Sering kali, di balik perubahan tragis tersebut, terdapat bayang-bayang gelap bernama narkoba.
Narkoba (Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif lainnya) sering kali ditawarkan sebagai “jalan pintas” untuk melarikan diri dari masalah, mencari kesenangan sesaat, atau sekadar ikut-ikutan tren. Namun, janji manis itu hanyalah tipu daya setan. Kenyataannya, narkoba adalah perangkap mematikan yang tidak hanya menghancurkan fisik dan mental pemakainya, tetapi juga merusak tatanan sosial dan spiritualnya.
Sebagai seorang Muslim, kita harus menyadari betapa besarnya bahaya narkoba dari berbagai sisi kehidupan.
Larangan Allah: Perusak Akal dan Diri
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi penjagaan terhadap akal pikiran (Hifzhul ‘Aql). Akal adalah anugerah terbesar yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, dan dengan akal pulalah kita bisa beribadah dan membedakan mana yang baik dan buruk. Narkoba, secara langsung, menyerang dan merusak akal ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: -
Seni Makan Secukupnya: Mengapa Islam Melarang Kita “Kalap” Saat Makan?

Pernahkah Anda merasa sangat mengantuk, malas bergerak, bahkan sesak napas setelah menyantap makanan enak dalam porsi besar? Di era modern ini, kita sering kali digoda oleh berbagai tren kuliner, mulai dari promo all-you-can-eat hingga video mukbang yang menampilkan orang makan dalam jumlah fantastis. Tanpa sadar, kita sering menganggap bahwa kebahagiaan itu identik dengan perut yang kekenyangan.
Namun, benarkah demikian menurut pandangan Islam? Ternyata, Islam memiliki aturan yang sangat menyejukkan dan menyehatkan terkait adab makan. Islam tidak melarang kita menikmati makanan lezat, tetapi Islam sangat melarang kita untuk makan berlebihan atau “kalap”.
Peringatan Langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
Makan berlebihan bukan sekadar masalah kesehatan tubuh, tetapi juga masalah spiritual. Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tegas memberikan garis panduan dalam Al-Qur’an mengenai hal ini. Allah berfirman: -
Lelah Menjalani Rutinitas, Sudah Tahu Belum Apa Tujuan Asli Kita di Dunia?

Pernahkah Anda merasa lelah dengan siklus hidup yang itu-itu saja? Bangun pagi, berangkat kerja menembus kemacetan, pulang malam, tidur, lalu mengulangi hal yang sama keesokan harinya. Di tengah rasa lelah tersebut, kadang terbersit sebuah pertanyaan kecil di dalam hati: “Sebenarnya, untuk apa sih kita hidup di dunia ini?”
Jika kita tidak memiliki pijakan yang jelas, rutinitas harian bisa terasa sangat hampa dan rentan membuat kita stres. Namun, sebagai seorang Muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peta jalan yang sangat jelas dan menyejukkan hati tentang tujuan penciptaan kita.
Mari kita sejenak mengambil napas panjang dan menyelami kembali makna tujuan hidup kita.
-
Istiqomah: Napas Utama Sang Pejuang Ilmu
Dalam khazanah pesantren, terdapat sebuah kaidah masyhur yang menjadi pegangan para santri dan ulama dalam meniti jalan ilmu:
اَلِاسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ
“Al-istiqāmatu khairun min alfi karāmah.”
Artinya: “Istiqomah itu lebih baik daripada seribu karamah.”
Bagi seorang santri, istiqomah adalah keteguhan hati untuk tetap konsisten dalam menuntut ilmu, menjaga wirid, dan menaati aturan pesantren meskipun rasa bosan atau lelah melanda.
-
Madrasah Ramadan: Menyelami Hikmah di Balik Ibadah Puasa
Puasa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga senja. Ia adalah bentuk ketaatan tertinggi yang memadukan dimensi spiritual, sosial, dan kesehatan. Bagi umat Islam, puasa adalah sarana “reparasi” diri untuk kembali kepada fitrah yang suci.
Berikut adalah hikmah utama ibadah puasa beserta dalil-dalil penyertanya:
1. Mencapai Puncak Ketakwaan
Hikmah tertinggi dari puasa adalah melatih seorang hamba agar memiliki kontrol diri yang kuat. Takwa adalah kemampuan untuk tetap menjalankan perintah Allah meski dalam keadaan sulit, dan menjauhi larangan-Nya meski ada kesempatan.

