
Pernahkah Anda selesai melaksanakan shalat Tahajud, lalu tiba-tiba terbersit di dalam hati, “Alhamdulillah, aku luar biasa bisa bangun malam, tidak seperti teman-temanku yang masih tertidur lelap”? Atau, saat baru saja bersedekah dalam jumlah besar, ada rasa bangga yang mekar di dada sambil merasa diri ini sudah sangat saleh?
Hati-hati, perasaan “bangga diri” atau kagum pada amalan sendiri semacam ini memiliki nama dalam Islam, yaitu Ujub. Secara kasat mata, kita mungkin memang sedang berbuat kebaikan. Namun di dalam hati, ada sebuah virus tak kasat mata yang diam-diam sedang menggerogoti pahala ketaatan kita.
Mari kita pelajari bersama, mengapa sifat yang sering tidak kita sadari ini sangat berbahaya bagi seorang Muslim.
Allah Melarang Kita Merasa Paling Suci
Penyakit ujub sangatlah halus. Kadang ia datang bukan melalui godaan harta atau kedudukan, melainkan menyusup lewat ibadah dan ketaatan kita. Ketika kita terkena ujub, kita lupa bahwa kemampuan kita untuk bisa shalat, puasa, dan bersedekah semata-mata adalah karena pertolongan dan taufik dari Allah, bukan karena kehebatan kita sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kita dengan sangat lembut namun tegas, agar tidak mudah merasa diri ini suci atau lebih baik dari orang lain: