Artikel Keagamaan

Kemuliaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ: Sejarah, Dalil, dan Hikmah

Pendahuluan

Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu tradisi yang sangat dijunjung tinggi oleh Ahlussunnah Wal Jamaah. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia, khususnya di pesantren-pesantren Nusantara, merayakan kelahiran baginda Nabi besar Muhammad ﷺ dengan penuh suka cita dan kegembiraan.

Perayaan Maulid Nabi bukanlah sekadar seremonial belaka, melainkan bentuk ekspresi kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk bergembira dengan datangnya Rasulullah:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya (dengan diutusnya Nabi Muhammad), hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus: 58)

Para mufasir Ahlussunnah menafsirkan bahwa “karunia dan rahmat” dalam ayat ini adalah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Sejarah Perayaan Maulid Nabi

Perayaan Maulid Nabi pertama kali dipopulerkan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M), seorang panglima besar Islam yang membebaskan Baitul Maqdis (Yerusalem). Beliau mengadakan perayaan Maulid sebagai bentuk syiar Islam dan untuk membangkitkan semangat jihad umat Islam.

Sejak saat itu, perayaan Maulid Nabi terus berlangsung hingga sekarang dan disebarluaskan oleh para wali dan ulama ke seluruh dunia, termasuk ke Nusantara oleh Walisongo. Sunan Kalijaga dan para wali lainnya menggunakan perayaan Maulid sebagai sarana dakwah yang efektif.

Dalil Anjuran Memperingati Maulid Nabi

Para ulama Ahlussunnah menyebutkan beberapa dalil yang menjadi dasar perayaan Maulid Nabi:

1. Al-Qur’an — Bergembira dengan Rahmat Allah

Sebagaimana telah disebutkan di atas, QS. Yunus: 58 memerintahkan kita untuk bergembira dengan rahmat Allah. Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat terbesar bagi alam semesta.

2. Sunnah — Puasa Senin sebagai Syukur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Senin, beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

“Itu adalah hari kelahiranku, hari aku diutus menjadi nabi, dan hari diturunkannya wahyu kepadaku.” (HR. Muslim)

Jika Rasulullah saja bersyukur dengan berpuasa setiap hari Senin karena beliau dilahirkan pada hari tersebut, maka terlebih lagi kita sebagai umatnya yang patut bersyukur dan bergembira dengan kelahiran beliau.

3. Tradisi Para Ulama Salaf

Imam As-Suyuthi, salah satu ulama besar Ahlussunnah, menulis kitab khusus tentang Maulid berjudul “Husnul Maqshid fi Amalil Maulid” dan menyimpulkan bahwa perayaan Maulid adalah bid’ah hasanah (inovasi baik) yang berpahala.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hajar Al-Haitami, dan Imam Nawawi juga menyatakan keutamaan dan kebolehan merayakan Maulid Nabi.

Hikmah dan Manfaat Maulid Nabi

  1. Menumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ — Mendengar kisah kelahiran, kehidupan, dan perjuangan beliau membuat cinta kita kepada beliau semakin bertambah.
  2. Memperbanyak Shalawat — Dalam perayaan Maulid, umat Islam membaca shalawat dan salam kepada Nabi, yang merupakan ibadah yang sangat dianjurkan.
  3. Syiar Islam — Maulid menjadi ajang syiar Islam yang menyatukan umat dan memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat luas.
  4. Bersedekah dan Makan Bersama — Tradisi Maulid biasanya diisi dengan jamuan makan yang merupakan bentuk sedekah dan silaturahmi.
  5. Mendapat Syafaat — Dengan memperbanyak shalawat dan cinta kepada Nabi, diharapkan kita mendapat syafaat beliau di hari kiamat.

Maulid di Pesantren

Di Pondok Pesantren Darul Hikmah Langkap dan mayoritas pesantren di Nusantara, perayaan Maulid Nabi diisi dengan pembacaan kitab Maulid Simthud Durar (karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi) atau Maulid Diba’ (karya Imam Abdurrahman Ad-Diba’i), diiringi shalawat bersama, tausiyah, dan doa.

Ini adalah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun sejak zaman Walisongo dan tidak pernah ditinggalkan oleh para kiai dan ulama.

Penutup

Perayaan Maulid Nabi adalah bentuk syukur dan cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di tengah arus pemikiran yang ingin menghapus tradisi ini, kita sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah harus tetap istiqamah melestarikan maulid sebagai salah satu syiar Islam yang mulia. Semoga dengan memperbanyak shalawat dan cinta kepada Nabi, kita termasuk umat yang mendapatkan syafaat beliau. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.